Internet membawa banyak perubahan dalam kehidupan. Kini manusia bisa menikmati hidup yang lebih mudah hanya dengan mengklik tautan apa saja yang mereka inginkan dengan aneka tujuan tanpa perlu bepergian. Bebas, sepanjang itu berkenaan dengan hak asasi manusia. Kebebasan yang tanpa batas ini tentunya membawa konsekuensi tersendiri.

Salah satu bentuk kebebasan yang mengkhawatirkan adalah maraknya tindak cyberbullying terhadap anak dan remaja. Cyberbullying atau bisa diterjemahkan intimidasi dunia maya akan melemahkan mental generasi muda yang terlahir sebagai bagian masyarakat millennial. Intimidasi online ini beragam, bisa berupa pesan, ancaman melalui email, mempermalukan korban dengan menggunggah foto tak senonoh, membuat situs untuk menyebar fitnah, memperolok korban serta mengakses akun jejaring sosial untuk memeras.

Orang-orang yang peduli, terutama kaum milenial tentu perlu memikirkan tata kelola internet, bagaimana manajemen ini bisa menjadi penyaring dan bersifat preventif untuk memberi rasa aman bagi pengguna Internet itu sendiri.

Berkenaan dengan ini, Agita Pasaribu sebagai duta PBB, UN-Youth IGF Indonesia Ambassador, mengajak anak-anak muda Indonesia untuk turun aktif peduli masa depan dengan bergabung menjadi orang-orang peduli dengan tata kelola Internet, untuk merasa tertantang.

Youth IGF Indonesia adalah sebuah inisiatif yang diakui, dipromotori oleh Forum Tata Kelola Internet PBB, UN Internet Governance Forum (IGF) sebagai Inisiatif IGF yang sudah ada dan bagian dari Gerakan Pemuda IGF.

Sedangkan tantangan Tata Kelola Internet adalah sebuah program yang dirancang untuk mahasiswa pascasarjana dan profesional yang ingin memahami dampak Internet pada masyarakat luas, ekonomi dan evolusi di masa depan, di samping berbagai tantangan dan dimensi tata kelola Internet. Dalam hal ini tentu terkait pula dengan literasi Internet.

Siapa pun, terutama anak dan remaja, jika sudah bisa mengakses halaman situs, dengan kata lain, terhubung ke Internet otomatis ia menjadi terbiasa dengannya. Otomatis juga dia terbebas dari “buta huruf” Literasi inilah yang akan menimbulkan dampak beragam bagi penggunanya.

Literasi internet di kalangan orang Indonesia dikatakan telah meningkat lebih dari setengah atau hingga 54,68 persen, menurut sebuah survei yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII). Jumlah pengguna internet di Indonesia dilaporkan mencapai 132,7 juta pada 2016 dan 143,26 juta pada 2017.

Sebagai duta PBB, Agita Pasaribu mengajak generasi muda di mana pun berada untuk menjadi bagian dari mereka yang peduli tentang bagaimana Indonesia di masa depan berkenaan dengan dampak dan pengaruh Internet dalam kehidupan. Partisipasi yang diharapkan adalah

  • Turut berpartisipasi dengan kegiatan-kegiatan Youth IGF Indonesia yang dapat diakses di youthigf.id.
  • Bijak dalam menggunakan social media dan internet untuk berkomunikasi, edukasi dan aktif dalam aksi positif.
  • Menjadi individu yang berpandangan terbuka untuk berdiskusi mengenai internet dari berbagai sudut pandang, latar belakang akademi dan professional.

Terlepas dari peraturan dan undang-undang yang telah mengatur ujaran kebencian dan kejahatan dunia maya, masih banyak kaum muda yang cemas dan merasa tidak aman, khususnya saat ujaran kebencian begitu mudahnya menjadi komoditas ekonomi dan politik. Sangat penting untuk mendorong kaum muda agar berpikir kritis, sehingga mereka sadar akan konteks ujaran kebencian serta cyberbullying.

Gerakan kepemudaan yang disebut Youth IGF Movement ini bukan ajakan untuk mengikuti kegiatan sekolah atau semacamnya, tetapi sebuah konferensi, diselenggarakan cuma satu kali. Di sini tempatnya kaum muda bergerak dan untuk membuat sebuah komunitas, anda tidak perlu memiliki sumber daya logistik yang ribet. Anda hanya perlu sekelompok orang yang bersemangat dan termotivasi.

Bahasan tentang tata kelola Internet ini menjadi issue penting pada Pertemuan Tahunan ke-13 dari Forum Tata Kelola Internet (IGF) diselenggarakan oleh Pemerintah Prancis di kantor pusat UNESCO di Paris dari 12 hingga 14 November 2018 lalu.

Source:
https://www.kompasiana.com/youthigf/5c7dfedf43322f6bf7338a94/saatnya-anak-muda-indonesia-peduli-tata-kelola-internet-dari-sekarang